[Seni](https://en.wikipedia.org/wiki/Art_music#:~:text=Art music (alternatively called classical,or a written musical tradition.) hari ini tidak mendapat tempat yang penting di masyarakat. Seni tidak lagi dipahami sebagai bentuk estetik melainkan hanya dlihat dari sisi fungsionalnya: hiburan.
Cara orang mengkonsumsi musik sebagai bentuk hiburan seperti orang sakit yang sedang menjalani terapi psikis. Orang-orang dikondisikan untuk berada dalam keadaan tenang, dengan pikiran yang kosong.
https://open.spotify.com/episode/3FGqXPFSfrkCFdbUMORgmY?go=1&sp_cid=c08c116f2a253742bdb0adb6ee180699&utm_source=embed_player_p&utm_medium=desktop&nd=1
Mengutip filsuf Jerman-Jurek Becker,
“Di mana-mana orang seperti kurang berusaha memahami tetapi selalu lebih merasa, semacam cara orang-orang yang kehilangan kemampuan berbicara dalam mengantisipasi kehidupan sehari-hari yang mengancam”.
Dengan kata lain orang telah kehilangan orientasi atas seni.
Dalam arti inilah pendidikan seni penting diberikan untuk memulihkan orientasi seni dalam masyarakat.
https://open.spotify.com/episode/3atBzOh2blKmYsFrjPidwQ?go=1&sp_cid=c08c116f2a253742bdb0adb6ee180699&utm_source=embed_player_p&utm_medium=desktop&nd=1
Sayangnya pendidikan musik tidak berjalan sepenuhnya seperti yang diharapkan, dalam hal ini di Indonesia. Hal ini terjadi karena kondisi dilematis yang disebabkan beberapa faktor historis. Di antaranya akan diuraikan di bawah ini
Sistem pendidikan musik di Indonesia hari ini tidak lepas dari pengaruh politik sejak sebelum era kemerdekaan.
Ada dua pihak yang menjadi peletak dasar sistem pendidikan Indonesia. Pertama dari pihak Belanda yang mengenalkan dan memberikan pengajaran musik Barat, kedua dari Ki Hadjar Dewantara yang memberikan pendidikan musik dengan sepenuhnya bertolak dari kultur Jawa.
Penentuan orientasi sistem pendidikan musik pertamakali di Indonesia tidak terlepas dari [konflik budaya](https://kutukata.id/2019/12/13/nukilan/polemik-kebudayaan-ii-persatuan-indonesia/#:~:text=Catatan redaksi%3A polemik kebudayaan adalah,budayawan Indonesia pada 1930-an.&text=Perdebatan mereka dan tokoh-tokoh,diterbitkan Balai Pustaka pada 1948.) dan minat politik di awal-awal kemerdekaan. Ada kubu yang pro gaya Barat dan ada yang pro gaya lokal-tradisional
Namun, para politisi lebih memilih model pendidikan Barat dari pada yang ditawarkan Ki Hadjar karena hanya mewakili satu kultur dan bisa menimbulkan konflik kultural jika diterapkan sebagai pendidikan nasional.
Dengan kata lain pada saat itu ada kebuntuan di kalangan cendikiawan dan penguasa dalam memformulasikan politik identitas nasional yang bisa dilakukan melalui jalur pendidikan musik.
Baca Juga: Kajian Musik, Apakah Itu?
Ada upaya dari pemertintah untuk menengahi dua minat yang saling bertentangan ini. Lebih tepatnya dengan pendirian lembaga pendidikan musik di jenjang perguruan tinggi yang berorientasi pada Barat yaitu AMI di Jogja dan pendidikan musik yang berangkat dari lokal-tradisional yaitu kajian karawitan ASKI di Solo.