Musik ada dan hadir dalam masyarakat melalui proses-proses produksi dan distribusi dan juga dengan pola-pola penggunaan yang sangat beragam.
Musik sangat dekat dalam [kehidupan sehari-hari](https://en.wikipedia.org/wiki/Everyday_life#:~:text=Everyday life%2C daily life or,natural%2C habitual%2C or normal.) masyarakat. Seperti yang kita ketahui, selalu ada musik di pusat-pusat perbelanjaan, bandara, cafe, restoran, dan di tempat-tempat umum lainnya.
Ironisnya, bagaimana musik berperan dan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat seringkali luput dari perhatian kita.
Meskipun demikian, telah ada beberapa pandangan yang menyiratkan bahwa musik memiliki modus relasi tertentu dengan masyarakat. Dalam hal ini, musik dan masyarakat memiliki modus-modus relasi dan saling mempengaruhi dalam tingkat tertentu.
Secara umum ada dua pandangan yang tersedia dalam beberapa sumber. Yang pertama melihat bahwa dalam relasinya dengan masyarakat, musik sebagaimana karya seni pada umumnya cenderung pasif. Karya seni dibentuk oleh kelomok-kelompok, minat-minat, serta konvensi sosial, dan ketersediaan sumber daya dalam rangkaian produksinya.
Pada modus yang pertama ini musik hanya berlaku sebagai objek dalam produksi kebudayaan tanpa memberikan efek apapun dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun dalam hal ini, musik bisa dianggap mencerminkan semangat masyarakat yang memproduksinya dalam arti musik sebagai hasil dari apa yang dilakukan kebanyakan orang bersama-sama (konteks sosial produksi seni).
Sedangkan pandangan yang lain menempuh jalan sebaliknya, melihat bahwa musik sebagai sesuatu yang aktif dan konstruktif dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya ditentukan olehnya.
Misalnya, musik digunakan dan diacu oleh orang-orang dalam aktivitas mereka untuk memproduksi situasi sosial tertentu.
Dalam kasus komunitas pengendara motor bernama 'bikeboys', misalnya, mereka menyukai dan menggunakan musik bertempo cepat dengan beat yang kuat untuk menciptakan suasana semangat dan bergairah.
Seperti yang diakui mereka sendiri, "jika kamu mendengar musik yang cepat kamu pasti akan bangun dan segera melakukan sesuatu, jika sudah tidak ada hal yang dilakukan, maka kamu harus segera pergi berkendara".
Dalam contoh itu musik seolah melakukan sesuatu bagi konsumennya dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka. Musik bertindak sebagai sesuatu yang "membentuk" cara dan gaya orang (cepat dan bersemangat) dalam menjalani aktivitas dalam waktu riil.
Seperti juga terjadi pada kegiatan lain yang melibatkan musik, misalnya: menari, olah raga, unjuk rasa, ritual peribadatan, dan lain-lain.
Selain itu, musik juga berperan dalam menata atau mengorganisir penggunanya. Pada keterangan yang disampaikan bikeboys, mereka bisa menghayati musik dan melakukan aktivitas bersama musik. Dari aktivitas duduk-duduk kemudian menari, hingga berkendara dengan musik yang terngiang dalam ingatan.
Musik berperan seperti alat kultural yang bisa mengantar seseorang dari aktivitas yang satu ke yang lain. Musik memiliki pengaruh dalam menata kondisi emosi yang satu ke kondisi emosi yang lain untuk mengiringi aktivitas-aktivitas yang dilakukan.
Bukan hanya untuk membangkitkan semangat seperti dalam kasus bikeboys, musik juga bisa membentuk rasa '[aman](https://medium.com/mind-cafe/what-it-means-to-be-emotionally-secure-860eedb8cdb6#:~:text=What does being emotionally secure,from impacting them too badly.)' bagi penggunanya. Dalam hal ini untuk menciptakan keteraturan sosial.
Keteraturan sosial bisa diciptakan melalui pengaturan **persepsi [ruang-waktu](https://en.wikipedia.org/wiki/Time_perception#:~:text=The perception of space and,to be extended in time.)** secara real-time. Dalam hal ini dimensi estetik bisa menjadi pondasi kultural yang mempengaruhi keyakinan, kepatuhan dan subjektifitas sesorang.
Singkatnya musik bisa berperan sebagai persepsi resiko.
Kita ambil contoh kasus situasi di bandara, di mana orang akan pergi menggunakan pesawat, berpindah dari suatu lokasi menuju lokasi tertentu yang relatif jauh dengan cara paling cepat tanpa hambatan, melayang tinggi di udara.